blog-img
08/08/2018

Rektor: Kuncinya di Presiden Jokowi

admin | Berita

Palopo - Perjuangan penegerian Universitas Andi Djemma makin kencang disuarakan. Di Seminar Nasional, kemarin, Rektor Universitas Andi Djemma, Dr. Marsus Suti, M.Kes kembali menyinggung semangat menegerikan Universitas Andi Djemma (UNANDA). Insya Allah, UNANDA akhir tahun ini atau awal tahun depan, sudah bisa negeri. Kuncinya ada di Presiden Jokowi.

Ada beberapa momentum yang bisa dimanfaatkan untuk mendorong penegerian. Dekat ini, kata Dia, ada momentum Pilpres. Momen-momen seperti ini harus dimanfaatkan untuk mendekati Presiden Jokowi. ”Kuncinya ada sama Jokowi. Dulu SBY, tapi karena pas lengser, Jokowi masuk. Saat bersamaan, muncul dinamika,” terangnya.

Dinamika yang muncul seperti adanya moratorium penegerian. ”Kita terganjal di situ. Padahal, semua aset sudah masuk ke Jakarta,” ujar Dr. Marsus Suti, M.Kes. kemarin.
Kata dia, ia juga sudah ke Jusuf Kalla. Tapi ke JK sepertinya tidak ada kuncinya.

"Makanya, kita dekati Jokowi. Harapannya semoga bisa dibuka kuncinya untuk penegerian UNANDA", tandasnya. ”Insya Allah, kalau moratorium penegerian dibuka, UNANDA yang pertama dijadikan PTN,” lanjutnya.

Terkait dengan seminar Nasional yang mengusung tema ”Pangan lokal sebagai subtitusi pangan pokok (beras) menuju diversifikasi pangan”, Ia mengapresiasi Fakultas Pertanian Universitas Andi Djemma yang telah mendorong kegiatan tersebut. Kegiatan seminar ini diikuti utusan dari berbagai perguruan tinggi dari dalam dan provinsi tetangga.

“Insya Allah pengembangan sagu Indonesia ditempatkan di Luwu Raya. Jadi pusat”, tegasnya dan disambut aplaus peserta seminar dan undangan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia Timur.

Peserta seminar diikuti beberapa perwakilan perguruan tinggi. Ada dari UMI, Universitas Terbuka (UT). Kemudian dari Maluku, Palu, Tana Toraja, UNCP, Parepare, dan Kendari.

Kata dia, Maluku ada sagu, Papua, ada sagu. Namun, kualitas sagu di Luwu Raya memiliki kualitas tinggi. Makanya, sering ada pepatah menyebutkan
masyarakat Tana Luwu tidak kelaparan. Kenapa? “Karena ada pohon sagu”, terangnya.

Satu pohon sagu, lanjutnya, bisa dinikmati oleh enam keluarga. Hanya memang sagu masih terkendala value (nilai) yang masih rendah. Namun, ke depan, sagu akan memiliki nilai yang tinggi. Dengan adanya penelitian pengembangan sagu ini, maka Jepang akan melirik. Nantinya, Negara Sakura akan memesan langsung sagu ke Luwu Raya.

Ia juga mengungkap penelitian pengembangan sagu. ”Lima tahun sudah bisa diproduksi. Pertumbuhan sagu di Luwu Raya sekali lagi cukup bagus”, terangnya.
Di Luwu Raya, populasi tanaman sagu hampir merata. Di Lutim, ada 200 hektar, Lutra 100 hektar. ”Pada kesempatan ini, saya pesankan kepada tamu dari luar supaya jangan pulang dari Palopo kalau tidak makan kapurung”, tandasnya.

Ratusan peserta Seminar Nasional yang mengusung tema pangan lokal sebagai subtitusi pangan pokok (beras) menuju diverfikasi pangan tampak serius menyimak pemaparan Rektor Universitas Andi Djemma. Seminar Nasional ini dirangkaikan dengan Training Advokasi Jurnalistik Wilayah V yang diikuti Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia (ISMPI).

Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Pertanian Universitas Andi Djemma, Intisari, SP., M.Si., mengucapkan banyak terima kasih atas terselenggaranya kegiatan Seminar Nasional tersebut. ”Kegiatan ini terselenggara atas dorongan Rektor UNANDA dan dukungan dari pemerintah se Tana Luwu”, ujarnya. (*)

Sumber: https://palopopos.fajar.co.id/ 

© 2018 Fakultas Perikanan Andi Djemma Palopo